Karena Mereka Ada & Dicinta (Liputan Majalah NOOR Januari 2012)

Merry Noventi & Hari

KEHADIRAN BUAH HATI YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS TIDAK HANYA MEMERLUKAN PENANGANAN YANG LEBIH BIJAK TAPI JUGA CINTA YANG TAK KALAH BESAR.

Ketika putra sulung mereka, Muhammad Muthahhari Karim ( 17 tahun ) didiagnosa dokter menyandang Autism dan Attention Devicit/Hyperactivity Disorder ( ADD/ADHD ), pasangan Mirza Karim dan Merry Noventi tetap berusaha memberikan hal yang terbaik bagi buah hati mereka itu. Sayangnya, saran pendidikan bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, seperti Hari, masih minim sehingga mendorong mereka untuk mendirikan sekolah yang tidak hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat umumtapi juga melatih kemandirian anak.

Menurut Venti, kebanyakan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di Indonesia masih kurang memperhatikan hal-hal yang esensial bagi anak, terutama anak berkebutuhan khusus yang memasuki masa pubertas.

“Kami mendirikan Rumah Anak Mandiri Karim yang berada dalam naungan Yayasan Maryam Karim dengan metode pendidikan yang kami rancang untuk memberi rasa nyaman bagi anak. Saran pendidikan dibuat sedemikian rupa sehingga mereka merasa seperti berada dirumah sendiri dengan kurikulum yang disesuaikan dengan keunikan masing-masing anak,” kata Venti.

Sengaja memilih sistem boarding atau asrama, Rumah Anak Mandiri Karim melatih kemandirian siswa selama 24 jam, sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Selama di sekolah, para guru membina kemandirian siswa melalui Activity of Daily Living ( ADL ), komunikasi, bina diri dan sosialisasi. “Selama ini, anak-anak autism memang mengalami kesulitan dalam komunikasi dua arah dan cara bersosialisasi yang benar, makanya hal itu menjadi prioritas di sini,” Venti menambahkan.